Review Film Filosofi Kopi: Temukan Hidupmu Dalam Sebuah Cangkir Kopi

Sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel karya seorang penulis yang juga dulunya adalah seorang penyanyi, Dewi Lestari atau yang akrab kita sapa Dee. Karya yang ditulis oleh Dee ini dianugerahi sebagai karya sastra terbaik oleh Tempo pada tahun 2006 lalu. Tidak heran jika karyanya tersebut  ditarik menjadi film yang akan menghiasi box office Indonesia tahun ini. ( Baca Juga : Filosofi Kopi. Film yang Diangkat Dari Buku Fiksi Karya Dee Lestari )

 

Salah satu scene di film Filosofi Kopi. ~okezone.com
Salah satu scene di film Filosofi Kopi. ~okezone.com

Film ini berkisah tentang salah satu kedai kopi di Jakarta yang masih dalam masa perkembangan. Kedai ini dirintis oleh dua pemuda yang bersahabat, yakni Jody yang diperankan oleh Rio Dewanto dan Ben yang diperankan oleh Chico Jericho . “Filosofi Kopi” adalah dua kata tepat untuk disematkan ke kedai kopi mereka.

Jody yang notabene adalah pemilik kedai kopi tersebut memilih merintisnya sendiri walau tanpa sokongan Ayahnya. Ia berdalih ingin mencari jati dirinya sendiri tanpa perlu mengikuti arahan ayahnya. Namun setelah ayahnya meninggal, ia baru tahu bahwa sang ayah memiliki hutang yang sangat besar dan mau tidak mau Jody harus menanggungnya. Bersama Ben, ia berusaha melunasi hutang tersebut.

Keduanya harus bekerja keras mengembangkan “Filosofi Kopi” agar bisa membayar tagihan utang yang ditinggal ayah Jody. Mereka tentu menjumpai berbagai macam masalah. Mulai dari pengunjung kedainya yang berjumlah tidak banyak, hingga kurangnya modal mereka untuk membeli berbagai macam biji kopi berkualitas.

Ben, seorang barista yang sangat keras kepala memiliki kemampuan dan pengalaman dalam meracik tiap cangkir kopi. Obsesinya terhadap kopi sangatlah tinggi, ini dilatarbelakangi oleh Ayahnya yang seorang petani dan peracik kopi yang handal sewaktu Ben kecil. Wataknya yang tak pernah bercanda dengan apa-apa saja yang berbau kopi begitu terkenal. Hingga suatu saat seorang pengusaha sukses yang bernama Hadi Surya datang ke kedainya untuk menawarkan tantangan membuat kopi house blend terbaik yang pernah ada dan imbalannya adalah uang dalam nominal yang besar.

Menyadari akan kesulitan financial yang melilitnya bersama Jody serta para pekerja di Filosofi Kopi, ia menerima tantangan tersebut. Berhari-hari ia berusaha menciptakan rasa kopi yang nikmat dan tak ada tandingannya, Jody pun memercayakan sahabatnya itu meraciik kopi dan memfasilitasinya dengan biji kopi terbaik, tentu dengan harga yang tak murah. Mereka mendapatkan biji kopi yang mereka incar di salah satu pelelangan biji kopi di Jakarta.

Sampai suatu malam sang barista Ben akhirnya dengan lihai menyelesaikan kopi yang menurutnya sudah sesuai. Para rekannya pun dengan begitu antusias ingin mencoba kopi racikan barista kebanggannya itu, alhasil ia menyelesaikannya dengan sempurna. Kemudian produk tersebut ia beri nama “Ben’s Perfecto”.

“Perfecto” menjadi menu kopi andalan di kedainya, banyak pecinta kopi yang berdatangan hanya untuk mencoba racikan kopi Ben. Tentulah Ben dan Jody bangga dengan pencapaian mereka sejauh itu, hingga kebanggaan tersebut seakan patah setelah kedatangan seorang wanita cantik  bernama El, penulis  yang berkeliling Asia hanya untuk meneliti kopi demi sebuah buku yang ia kerjakan.

El yang diperankan oleh Julia Estelle menganggap kopi racikan Ben tak pantas menyandang nama “Perfecto” sebab baginya kopi tersebut tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kopi tiwus yang pernah dicecapnya di Jawa Tengah. Tentu hal ini membuat Ben tak terima, lalu Jody mengajaknya untuk ikut mencari kopi tiwus bersama El. Awalnya ia dengan keras menolak, namun didorong oleh masalah financial dan nasib para pekerja Filosofi Kopi akhirnya Ben mau. (Baca Juga : Julie Estelle Rela Belajar Tentang Kopi demi Film Filosofi Kopi )

Dasar Ben yang sifatnya keras dan berpenampilan berantakan membuat El tidak nyaman dengan sikapnya, namun seakan tak acuh El membiarkannya saja dan tak mau ambil pusing. Kemudian El membawa Ben dan Jody untuk bertemu dengan petani kopi yang menggarap kopi tiwus, namanya pak Seno. Secara arogan ia menginvestigasi pak Seno perihal kopi tiwus, mulai dari tata cara menanamnya hingga meraciknya menjadi bubuk kopi yang siap seduh. Seakan Ben sulit memercayainya, tenyata kopi tiwus yang kenyataannya memang benar-benar kalah nikmat dengan kopi “Perfecto” yang ia racik adalah kopi yang berkualitas tanpa rahasia. Akhirnya dia mengakui kenikmatan kopi tiwus.

Tak pikir panjang, Jody langsung mengangkut beberapa karung kopi untuk dibawa ke Filosofi Kopi, kemudian diracik oleh Ben. Lalu kopi tersebut akan dihidangkan kepada pengusaha yang telah memberinya tantangan tempo hari.

Ketekunan dua sahabat ini membuahkan hasil, pengusaha tersebut benar-benar dimanjakan lidahnya oleh kopi racikan Ben. Mereka kemudian berhak membawa pulang uang sebesar satu milyar. Seolah mereka adalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini, sesegara mungkin mereka melunasi hutang ayah Jody lalu sisanya ia sisihkan untuk memajukan kedai kopi Filosofi Kopi yang mereka rintis.

Singkat cerita, Jody memutuskan untuk menjual kedai kopi yang selama ini ia tempati, “Filosofi Kopi” akan tetap berjalan, namum kedai tersebut berkembang dengan cara berbeda. Yakni memindahkannya dalam sebuah mobil vans tingkat dua dengan berlatar kuning dan bertulis “Filosofi Kopi”. Mobil tersebut siap berkeliling Indonesia dan mengenalkan kopi secara spesifik ke masyarakat Indonesia,

“Mari kita kopikan Indonesia!” Seruan Ben di salah satu adegan film tersebut, sesaat sebelum mobil itu melaju.

Dan terakhir, film tersebut ditutup oleh adegan saat si penulis dan peneliti kopi, El melucurkan sebuah buku yang judulnya sama dengan kedai kopi yang sempat ia singgahi, Filosofi Kopi.

“Saya tidak hanya sekadar ingin menandatangani buku ini, saya juga ingin meminta izin kepada penulisnya untuk mengenalnya lebih jauh” kata Ben kepada El, sesaat sebelum film ini berakhir.

Berikut Official Trailer film Filosofi Kopi:

Well, jika kalian adalah penggila atau penikmat kopi, Film besutan Angga Dwimas Sasongko ini merupakan film yang sangat recommended  buat para coffee lovers.

Fathana Erlangga

Mahasiswa tanpa gelar yang sedang mencari jalan lurus. Rajin tidur agar semua mimpi tercapai. Pecinta wanita berambut panjang dan berkacamata. Masih terus belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.