Mancanegara Ragam

Mengenal Sarin, Senjata Kimia Yang Membunuh Anak-anak Tak Berdosa di Suriah

Oleh -

Perang saudara yang terjadi di Suriah memang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dengan damai sejak pertama kali pecah pada tahun 2011. Dua kubu yang berseteru dalam perang tersebut adalah pemerintahan Suriah di bawah pimpinan presiden Bashar al-Assad dan rakyat Suriah bersama dengan organisasi-organisasi oposisi yang menuntut pemerintahan yang demokratis.

Berbagai jenis senjata antara lain bom kluster, senjata thermobaric, dan misil anti-tank telah digunakan untuk perang tersebut, bahkan sampai penggunaan senjata kimia mematikan oleh pemerintah Suriah, yakni Sarin. Menurut laporan dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), terdapat korban tewas sejumlah 58 orang, termasuk 11 anak-anak, tapi Moh. Rasoul melaporkan bahwa yang tewas adalah 67 orang dan 300 orang luka-luka.

Sementara Edlib Media Center (EMC) mengatakan sudah berhenti menghitung korban karena terlalu banyak. Jadi apa sebenarnya itu gas saraf Sarin, yang sangat beracun dan lebih berbahaya dibanding sianida?

Sarin 26 Kali Lebih Mematikan Dibandingkan Sianida

Sarin merupakan senyawa organofosfat tidak berwarna dan tidak berbau yang memiliki potensi ekstrem sebagai agen syaraf, sehingga dapat digunakan sebagai alat penghancur massal. Seperti agen syaraf yang lain, Sarin menyerang sistem syaraf yang kemudian menyebabkan sesak nafas akut akibat hilangnya kemampuan otot yang terlibat dalam proses pernafasan.

(c) Wikipedia

Senyawa ini dikenal memiliki pengaruh yang fatal bahkan dalam jumlah yang sedikit. Kematian dapat terjadi 1 sampai 10 menit setelah seseorang menghirup Sarin secara langsung dan tidak tertangani dengan senyawa penangkal. Sarin dalam bentuk murninya, yakni gas, 26 kali lebih mematikan dari sianida.

Ditemukan pertama kali pada tahun 1938 oleh seorang ilmuwan Jerman, Sarin awalnya diperuntukkan untuk menjadi alternatif pestisida yang lebih kuat. Namun setelah diketahui kemampuannya yang sangat mematikan, sejak akhir Perang Dunia II, Sarin mulai dikembangkan oleh beberapa negara seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat sebagai senjata kimia. Sebenarnya pada tahun 1993 telah dinyatakan pelarangan atas produksi dan penimbunan Sarin sebagai senjata kimia oleh PBB, namun beberapa negara tidak mematuhinya.

Sarin di Zaman Hitler

Gambaran pertama kali yang muncul saat mendengar kata ‘Hitler’ adalah sosok pemimpin Nazi yang bengis dan tidak berperikemanusiaan dengan senjata Holocaust-nya. Sejarah juga sering menyebutkan penggunaan senjata kimia selama masa kekuasaan Hitler, seperti sulfur dan klorin yang mampu membunuh massa dalam waktu sekejap.

Pada saat itu, tentara Jerman pun membangun fasilitas pengembangan Sarin, bahkan memanggil langsung penemu senyawa tersebut hingga hasil produksi mencapai sepuluh ton Sarin, jumlah yang cukup untuk membunuh jutaan manusia.

(c) DailyMail

Namun yang menarik, Hitler tidak pernah memerintahkan atau mengizinkan penggunaan Sarin dalam menerapkan ajaran fasisme-nya. Ia takut bahwa penggunaannya akan meningkatkan ketertarikan banyak negara-negara besar lain untuk mengembangkan dan menjadikan Sarin sebagai senjata perang.

Sarin pada Perang Suriah

Beberapa dekade berikutnya, Saddam Hussein adalah pemimpin perang yang menggunakan Sarin sebagai senjata kimia pada tahun 1998 untuk melawan Kurds. Dan menurut sejarah penggunaan senjata kimia sebagai pembunuh massal, serangan yang dilakukan tentara Suriah pada awal April 2017 di kota Khan Sheikhoun, Suriah, merupakan kasus yang paling mematikan.

Dilaporkan 86 orang tewas, 30 di antaranya adalah anak-anak, dan ratusan korban lainnya tersebar di beberapa rumah sakit yang masih beroperasi. Para dokter dan perawat juga mengalami kesulitan untuk menangani para korban karena fasilitas kesehatan yang sudah rusak karena serangan-serangan sebelumnya, dan juga tekanan dari pemerintah untuk tidak mengobati masyarakat yang dicap sebagai pemberontak pemerintah.

(c) AP

Sebelumnya pada tahun 2013 pemerintah Suriah pernah menjatuhkan bom Sarin di kota Damaskus pada malam hari, saat rakyat sedang tertidur lelap. Next

loading...

Apakah Kamu Setuju?