Dilarang Beredar, Film The Interview Nekat Dikirim Lewat Balon Udara

Sebuah film mahakarya Sony Picture, The Interview, memang dilarang keras dan beredar di Korea Utara, pasalnya film ini menceritakan hal yang sangat sensitif bagi pemerintah Korea Utara. Film yang diperankan oleh James Franco dan Steh Rogen tersebut bercerita tentang upaya intelijen Amerika Serikat membunuh pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un. Penolakan edar di wilayah Korea Utara itu pun mengancam Sony Picture alami kerugian besar.

Film ini akan dikirim lewat balon udara  ~ netflixlife
Film ini akan dikirim lewat balon udara ~ netflixlife

Namun oleh sekelompok aktivis kemanusiaan dan perdamaian dunia, film ini nekat akan tetap dikirim ke Korea Utara. Film tersebut mereka pastikan akan sampai dan ditonton oleh warga Korea Utara. Sebuah rencana besar pun disiapkan, mereka merencanakan untuk mengirim film The Interview melalui balon udara yang diterbangkan ke wilayah Korea Utara.

“Kami akan mulai menerbangkan balon-balon hidrogen yang membawa DVD-DVD The Interview ke Korea Utara sehingga masyarakat di sana bisa menonton film ini,” ujar pendiri dan pimpinan Cinema for Peace Foundation Jaka Bizilj dalam sebuah konferensi pers di Berlinale pada 9 Februari lalu.

Mengenai waktu yang tepat untuk mengirimkan DVD tersebut tidak dapat dibocorkan kepada siapapun sampai kiriman sampai, para aktivis takut jika rahasia ini bocor maka akan terjadi kekacauan parah di Korea Utara.

Jaka Bizlij pun menambahkan, tujuan pengiriman film tersebut hanya untuk kemanusiaan, disamping untuk membuktikan pada dunia bahwa setiap karya seni itu berhak untuk diedarkan.

“Karena bagi kami, (film) ini bukan tentang masalah baik dan buruk. Jika kamu menyukai atau tidak terhadap sesuatu, kamu harus memperjuangkan karya seni agar bisa bebas diakses,” ungkap Bizilj, seperti dikutip The Hollywood Reporter.

Bagaimana kelanjutan aksi aktivis ini dalam proses pengiriman film The Interview? Berhasilkah mereka membuat warga Korea Utara menonton film tersebut? Kita lihat nanti.

Yusuf Fikri

Mahasiswa yang lebih sering memandangi Monitor Komputer di Kantor (baca : Kamar) dari pada Papan Tulis di Kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.