Mengenal Rabindranath Tagore Dari Einstein Sampai Surakarta

Siapa itu Rabindranath Tagore? Memang tidak banyak yang mengenal seniman asal India yang meninggal tepat di hari ini, 74 tahun lalu. Tagore, yang juga dikenal sebagai Gurudev lahir di India sebagai keluarga Brahmana dan menasbihkan dirinya sebagai filsuf, seniman, dan juga sastrawan.

Tagore
Tagore

Tagore tidak hanya dikenal di tempat asalnya, Bengali. Tagore merupakan orang Asia pertama yang meraih nobel untuk bidang sastra.

Tidak sedikit yang menganggap Tagore adalah maestro, terutama di bidang sastra. Seumur hidup Tagore didedikasikan untuk sastra, termasuk puisi, teater, novel, hingga musik dan seni rupa. Sejarah mencatat, Tagore dekat dengan Mahatma Gandhi dan Albert Einstein. Banyak catatan yang mendukung bukti-bukti tersebut.

Sang maestro, dalam sejarahnya, dicatat antara 1878-1932 sudah mengunjungi lebih dari tiga puluh negara dari lima benua. Perjalanan Tagore bertujuan untuk mengenalkan dan memopulerkan karya-karya sastranya dan memaparkan ide-ide politiknya keluar wilayah Bengali, India. Ide-ide politik sang maestro memang sedikit radikal, bahkan sejarah mencatat, Tagore sempat berkenalan dan berhubungan baik dengan pemimpin fasis Itali, Benito Mussolini sebelum kemudian terang-terangan menolak kebijakan politik Mussolini.

Einstein dan Tagore
Einstein dan Tagore

Pada 14 Juli 1927, Tagore melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, termasuk ke Jawa dan Bali. Catatan perjalannya dirangkum ke dalam buku berjudul “Jatri”. Perjalanan ini pun memiliki tujuan yang sama, untuk memopulerkan opini-opininya yang berkaitan dengan kemanusiaan dan nasionalisme.

Warisan-warisan dari sang maestro ini pun beragam, bahkan dianggap sebagai salah satu kemajuan dalam sastra. Banyak sekolah-sekolah, institusi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kesusastraan menjadikan Tagore sebagai inspirasinya. Bahkan, tidak sedikit karya-karya Tagore yang diterjemahkan ke berbagai bahasa di Eropa dan tidak sedikit pula yang menganggap Tagore adalah salah satu sastrawan terbaik yang dilahirkan India.

Pengaruh Tagore pun tidak hanya di wilayah Eropa atau Asia Selatan, Asia Tenggara pun juga menjadi salah satu wilayah yang terinspirasi oleh Tagore. Indonesia, khususnya Surakarta juga memiliki nama jalan yang terinspirasi dari sang maestro.

Jalan_Rabindranath_Tagore_in_Surakarta-detail-2

Selain nama jalan di Surakarta, Tagore juga menginspirasi Ki Hajar Dewantara untuk membuat Taman Siswa di Yogyakarta. Taman pendidikan yang juga pernah dibuat oleh Tagore juga menjadi salah satu acuan inspirasi bagi pondok pesantren Gontor, selain pendidikan agama lain seperti Universitas Al-Azhar.

Dilansir dari Wikipedia, berikut beberapa karya puisi dan drama yang pernah dibuat oleh Tagore.

Puisi
Manasi 1890 (The Ideal One)
Sonar Tari 1894 (The Golden Boat)
Gitanjali 1910 (Song Offerings)
Gitimalya 1914 (Wreath of Songs)
Balaka 1916 (The Flight of Cranes)
Drama
Valmiki Pratibha 1881 (The Genius of Valmiki)
Visarjan 1890 (The Sacrifice)
Raja 1910 (The King of the Dark Chamber)
Dak Ghar 1912 (The Post Office)
Achalayatan 1912 (The Immovable)
Muktadhara 1922 (The Waterfall)
Raktakaravi 1926 (Red Oleanders)