Mengingat si ‘Binatang Jalang yang Terbuang’ dari Indonesia

“Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang, menerjang luka dan bisa kubawa berlari”

Penggalan puisi di atas pastilah dikenal dengan baik oleh semua orang. Puisi yang terkenal sejak tahun 40-an ini pernah jadi signature salah satu iklan komersial rokok sekitar tahun 2004 karena puisi sempat digandrungi anak muda pada masa itu, setelah film Ada Apa Dengan Cinta? meledak di pasar film Indonesia.

454px-Chairil_Anwar

Tepat hari ini, 93 tahun yang lalu lahir salah satu sejarah sastrawan Indonesia, Chairil Anwar. Penyair yang terkenal dengan puisi ‘Aku’ ini seringkali disebut ‘binatang jalang’ karena kekhasan puisinya yang menuju kematian, individualisme, dan lain-lain. Chairil merupakan salah satu sastrawan generasi 1945, bersama nama-nama lain seperti Sutardji Calzoum Bachri, Pramoedya Ananta Toer, dan Mochtar Lubis.

Chairil lahir di Medan, 26 Juli 1922 sebelum besar di tanah Jakarta dan menggeluti bidang sastra sejak tahun 1942. Chairil sempat mengenyam pendidikan di Hollandsche-Indlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang pada saat itu merupakan sekolah bertaraf tinggi untuk pribumi, yang masih dalam masa penjajahan Belanda. Namun, masalah keluarga membuat Chairil tidak bisa menyelesaikan pendidikan, meski begitu, Chairil sudah mampu menguasai tiga bahasa asing, Inggris, Jerman, dan Belanda.

Puisi-puisi Chairil yang tergolong gelap seringkali tidak tembus untuk diterbitkan bahkan sampai kematiannya. Meski begitu, karya-karya Chairil tetap banyak yang mengapresiasi dan mencoba mendistribusikannya ke dalam berbagai medium. Chairil meninggal dengan berbagai komplikasi yang mendera dirinya, mulai dari diagnosa TBC, tifus, penyakit usus, hingga kanker paru-paru. Chairil memang seperti sudah siap untuk mati muda, seperti kata band indie Jenny, “semoga matiku mati muda, buat apa hidup lama jika dosa yang berkuasa,”.

Karya-karya yang dibuat Chairil Anwar, dan sempat diterbitkan antara lain Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam yang Terampas dan Putus (1949), Aku Ini Binatang Jalang (1942-1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950). Sisa karya Chairil Anwar tidak semuanya diterbitkan, namun banyak yang menggabungkannya ke dalam antologi berbagai puisi bersama tokoh-tokoh lain, seperti Sapardi Djoko Damono.

Hari kematian Chairil Anwar, 28 April, ditasbihkan menjadi hari ‘Chairil Anwar’ karena kontribusinya terhadap perkembangan sastra di Indonesia. Alasan lainnya, Chairil memang sudah menulis hingga 94 karya, 70 di antaranya adalah puisi. Hingga hari ini, makamnya di TPU Karet Bivak masih terus didatangi pengagumnya dari masa ke masa, untuk sekadar ziarah maupun bercerita tentang puisinya.

Iqbal Nugroho

Pria yang bernama Iqbal Haryadi putra bungsu dari clan Nugroho, berharap tulang rusukku kelak yang bisa merubah kebiasaan burukku perlahan